Jumat, 04 Januari 2013

KEANEKARAGAMAN HAYATI


Keanekaragaman Hayati atau biodiversitas adalah kondisi keanekaragaman bentuk kehidupan dalam ekosistem atau bioma tertentu. Keanekaraman hayati seringkali digunakan sebagai ukuran kesehatan sistem biologis. Keanekaragaman hayati tidak terdistribusi merata di bumi, wilayah tropis seperti Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang lebih kaya dibandingkan dengan wilayah lainnya. Jumlah keanekaragaman hayati dapat dibagi ke dalam 3 jenis yaitu:
v  Keanekaragaman genetik (genetic diversity); jumlah total informasi genetik yang terkandung didalam individu tumbuhan, hewan yang mikroorganisme yang mendiami bumi.
v  Keanekaragaman spesies (species diversity); keanekaraman organisme hidup di bumi (diperkirakan berjumlah 5 – 50 juta), hanya 1,4 juta yang baru dipelajari.
v  Keanekaragaman ekosistem (ecosytem diversity); keanekaragaman habitat, komunitas biotik dan proses ekologi di biosfer atau dunia laut.
Ekosistem sungai memiliki tingkat keanekaragaman yang tinggi. Sama seperti ekosistem hutan, dengan adanya perbedaan habitat akan menyebabkan perbedaan jenis yang mendominasi. Dalam ekosistem sungai, terdapat berbagai fauna dan flora baaik dalam bentuk makro maupun mikro. Fauna ekosistem sungai dapat dibagi menjadi 3 berdasarkan tempat hidupnya:
a.         Permukaan air. Fauna yang hidup dipermukaan air dibagi lagi menjadi 2 yaitu: pleuston (contohnya: anggang-anggang) dan neuston (contoh: zooplankton).
b.         Kolom air. Fauna yang hidup di kolom air adalah nekton (contoh: ikan).
c.          Dasar. Fauna yang terdapat didasar dibagi menjadi 2 yaitu: bentos (contoh: nimfa capung) dan psammon (contoh: udang mikroskopik).
Flora pada ekosistem sungai, berdasarkan cara hidupnya dibagi menjadi:
1.         Fitoplankton, flora mikroskopis yang melayang-layang di permukaan sampai kolom air.
2.         Alga bentik, hidup dengan cara menempel pada substrat yang terdapat di dasar sungai (contoh: diatom).
3.         Makrofita tenggelam, seluruh bagian tubuhnya terdapat didalam air (contoh: Hidrilla).
4.         Mikrofita berdaun terapung, akarnya akan berada di dasar perairan dan daunnya mengapung diatas air (contohnya: teratai).
5.         Mikrofita terapung, akarnya mengapung dipermukaan air (contoh: enceng gondok).
6.         Mikrofita mencuat, berakar di dasar perairan akan tetapi sebagian tubuhnya muncul keluar dari permukaan (contoh: ekor kucing).
7.         Vegetasi riparian, merupakan flora yang hidup di sekitar batas antara perairan dan daratan.

Sumber: Buku Angket PLH/BLH Prov Jatim

Tidak ada komentar:

Posting Komentar