DAS BRANTAS
Daerah Aliran Sungai (DAS) adalah kawasan
yang dibatasi oleh pemisah topografis yang menampung, menyimpan dan mengalirkan
curah hujan yang jatuh diatasnya kedalam satu sungai utama yang bermuara ke
danau atau lautan. DAS Brantas memiliki 1.555 anak sungai terdiri dari orde 2
sampai dengan 4 dan semuanya terletak di Jawa Timur. DAS Brantas mempunyai
11.800 km2 atau ¼ dari luas Provinsi Jatim. Panjang sungai utama
320 km mengalir mengitari gunung berapi yang masih aktif yaitu Gunung Kelud.
Sejak abad ke 8, di DAS Brantas telah
berdiri sebuah kerajaan bernama kanjuruhan. Kerajaan ini meninggalkan Candi
Badut dan prasasti Dinoyo ytang berangka tahun 760M sebagai bukti
keberadaannya. Bukti terkuat tentang adanya budaya pertanian yang ditunjang
oleh pengembangan prasarana pengairan (irigasi) yang intensif ditemukan di DAS
Brantas, lewat Prasasti Harinjing di Pare. Merujuk khazanah sastra jawa, sungai
Brantas ini yang diduga kuat disebut sebagai Ci Ronabaya dalam naskah Bujangga Manik.
Dari catatan yang ada menurut Smittiea
(1983) awal munculnya pemukiman di DAS Brantas adalah sejak pemerintahan Raja
Sindok. Sekarang ini, penduduk di DAS Brantas mencapai 15,2 juta orang (1999)
atau 43% dari penduduk Jatim dan mempunyai kepadatan rata-rata 1,2 kali lebih
tinggi dibandingkan rata-rata jatim. Adapun Kali Brantas mempunyai peran yang
cukup besar dalam menunjuang Provinsi Jatim sebagai lumbung pangan nasional.
Dalam tahun 1994 – 1997, Provinsi Jatim telah memberi kontribusi rata-rata
470.000 ton beras/ tahun atau 25% dari stok pangan nasional.
Tidak juga sebagai situs sejarah, sumber
bahan baku air minum dan irigasi sawah, DAS Brantas juga merupakan salah satu
sumber keanekaragaman hayati Jawa Timur. Bantaran sungai brantas yang merupakan
juga daerah riparian merupakan juga salah satu habitat burung, serangga,
primata dan tanaman. Binatang seperti biawak, bulus dan burung Sri Mbok-Mbok
merupakn hewan yang seringkali ditemui di daerah ripaian. Akan tetapi seiring
dengan meningkatnya laju pembersihan bantaran untu digunakan sebagai pemukiman,
maupun industri serta budaya membuang sampah ke kali, menyebabkan mereka
semakin sulit ditemui.
Sumber: Oleh SMPN 5 Kepanjen dari Buku Angket
PLH/BLH Prov Jatim